Masih ada kaitan dengan tulisan sebelumnya.

Maka hari berikutnya aku segera pergi ke dokter puskesmas untuk memeriksakan lukaku ke dokter puskesmas terdekat.

Dan kata dokter, “Kenapa tidak kemaren dibawa kesini, misalkan kemaren kan bisa dijahit dan akan dapat sembuh lebih cepat.” Aku jawab aja, “Gak sempat Dok..” Padahal ada saja waktu hanya aku pikir kemaren diobati dengan caraku sendiri juga bisa cepet sembuh dan yang pasti keridhaanku akan lukaku itu adalah seperti sugesti bagiku yang pasti akan membantu penyembuhan lukaku.

Pada akhirnya, lukaku hanya diplester biasa sebagaimana aku lakukan di rumah. Bedanya kalau diobati sendiri di rumah hanya obat biasa yang aku gunakan, paling Betadine, dan plester udah. Sedang dari dokter ini aku dapat obat antibiotik, obat anti nyeri, dan satu lagi, aku lupa. hehe…^^

Aku terima obat dari petugas apotek puskesmas, tertulis masing-masing 3×1, yang artinya adalah dalam sehari obat itu diminum selama tiga kali masing-masing satu, benar kan??

Nah, di sini mulai dipermasalahkan, istriku mendebatku, bahwa tiga kali sehari itu berarti obat itu diminum setiap 8 (delapan) jam sekali, logikanya, sehari ada 24 jam dibagi 3 sama dengan 8, heyyy.. anak eSDe juga ngerti itungan kayak gitu, hanya saja, baru kali ini dapat statemen seperti itu, bahwa minum obat itu tiap 8 jam sekali… (heran) padahal selama ini namanya tiga kali sehari itu pagi, siang, dan sore. Bukan begitu teman?

Nah, istriku ini masih ngeyel, katanya di mana-mana juga tiga kali satu itu tetap tiap delapan jam sekali. capeek deeh, nanti tanya dokter deh..

Dalam hati masih belum yakin kalau aturan minumnya itu tiap delapan jam sekali. Kalau begitu timbul masalah lagi, ketika kita minumnya katakanlah jam 4 sore maka kita minum setelahnya minimal jam 12 malam (huaaa…) yang bener aja lagi enak tidur kemudian bangun tengah malam cuma buat nelen obat pahit kayak gitu, lagipula kan kalau obat kimia perut harus terisi makanan dulu, bagaimana kalau tidak terbiasa makan di tengah malam, pusing kan? mending obat herbal, bisa diminum tanpa harus terisi makanan terlebih dulu.

Akhirnya, istriku ngalah (gak tahu, tapi kayaknya masih keukeuh juga dengan pendapatnya) katanya, “Ya udah, tapi minumnya minimal 6 jam sekali, karena kan itu ada obat antibiotiknya.”

“Yes… aku menang kali ini, walaupun pas kontrol dokter tiga hari lagi, ingin sekali aku menanyakan kepada dokter cara minum obat yang bener itu bagaimana?

Itulah sekelumit tentang polemik cara minum obat yang benar. Apakah ada yang pernah mengalami pengalaman serupa? mari kita berbagi di sini, semoga nanti ada manfaatnya juga buat saya khususnya dan buat yang lainnya pada umumnya.

Dan Insya Allah setelah aku kontrol lukaku ini ke dokter dan aku dapatkan jawaban pastinya, insya Allah aku akan share lagi di blog ini.

Cukup dulu deh..

Salam terindah,
heane

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s