Masih kelanjutan dari cerita sebelumnya

Baru sempat menulis, walau sudah tiga hari yang lalu aku kontrol ke dokter karena luka di tanganku.

Hari itu, agak pagi aku datang ke puskesmas untuk kontrol luka di tanganku, aku berharap dengan kedatanganku ini akan dapat membantu kesembuhan lukaku, karena kuyakin sepenuhnya Dia Allah-lah Yang Maha Penyembuh.

Giliranku tiba, aku dipanggil oleh dokter dari ruang periksa, kemudian tanganku diperiksa dan sedikit ada tanya jawab mengenai lukaku, bagaimana dan seperti apa. Aku jawab sudah lebih baik namun belum sepenuhnya bisa digunakan untuk beraktifitas.

Dengan jawabanku itu kemudian aku ditanya lagi, “Apakah masih terasa sakit seperti sakitnya kemaren?” Aku jawab, “Tidak.” Kemudian Dokter menuliskan resep obat di kertas dan katanya cukup satu obat saja sekarang karena sudah lebih baik dari kemarin. Alhamdulillah.

Kemudian aku datangi apotek kuserahkan resep dan aku disuruh menunggu untuk disiapkan obatnya, tak berapa aku dipanggil dan obat telah siap, cuma antibiotik sepuluh biji.

Berarti untuk tiga hari ke depan. Oia, tidak lupa aku tanyakan hal yang mengganjal kemaren, yaitu tentang cara minum obat yang benar, sehari tiga kali itu bagaimana yang benar, pagi siang sore ataukah tiap delapan jam sekali?

Dijawab oleh mereka (dokter dan pegawai apotek), entahlah, apakah itu untuk sekedar memudahkan ataukah karena kebanyakan pasien puskesmas adalah orang-orang kecil sepertiku, mereka menjawab, “iya tiga kali, pagi siang dan sore.” Selesai dan akupun melangkah pulang, namun entah mengapa seperti ada ketidakpuasan dengan jawaban tadi.

Akupun sampai di rumah. Namun tidak segera kuminum obatnya, karena kupikir masih jam nanggung, nanti siang sajalah.

Kemudian kutemui istriku dan kuceritakan perihal berobat tadi pagi tak lupa aku ceritakan tentang tanya jawabku ke dokter puskesmas terutama tentang cara minum obat yang sebelumnya kami perdebatkan. Aku ceritakan bahwa menurut mereka tiga kali sehari itu pagi, siang, dan sore, bukan tiap delapan jam sekali.

Tapi istriku kemudian menjawab dengan tenang, “Berarti dokter puskesmas itu bodoh.”

“Kenapa?” tanyaku.

“Karena ia tidak tahu atau tidak memberi tahu cara minum obat yang benar kepada pasiennya. Mungkin itu untuk memudahkan saja, karena pasien puskesmas kan beda dengan pasien rumah sakit apalagi rumah sakit swasta yang mahal.” Katanya seperti meyakinkan.

“Tapi, dari dulu seperti itu cara minum obat yang umum.” aku masih berkilah.

“Nah, seperti kubilang tadi, itu karena untuk memudahkan saja, coba ingat ketika kemaren kita periksa kehamilanku di rumah sakit, ingat kan obat yang diberikan dokter, ada yang cara minumnya per dua belas jam sekali (24jam x 1), yang berarti diminum semisal dengan sehari satu kali tapi jelas waktunya. Ada yang per enam jam sekali (6jam x 1), yang berarti semisal dengan sehari empat kali minum, itu dokter yang pinter, memang agak ribet, tapi begitulah obat kimia, ada kandungan tertentu yang mengharuskan kita meminumnya harus sesuai dosis yang dianjurkan, apalagi jika itu obat antibiotik, maka jika tidak mau tiga kali itu per delapan jam upayakan per enam jam sekali minumnya..” Panjang lebar istriku menjelaskan seperti menerangkan ke anak SD.

Aku jadi agak bimbang, mana yang harus kupegang perkataannya, kenapa tiap dokter berbeda dalam menjelaskan, atau bahkan tidak menjelaskan jika tidak ditanya. Atau memang seperti itu Kode Etik Kedokteran? Entahlah, akhirnya kuikuti saran istriku, minum obatnya tiap delapan jam sekali, semisal dengan tiga kali dalam sehari, atau minimal enam jam sekali dalam sehari.

***

Demikianlah sedikit berbagi pengalamanku ketika Allah Ta’ala mengujiku dengan sedikit sakit di anggota tubuhku.

Dan Aku bersyukur aku masih diberi kabar gembira dengan keadaanku yang masih bisa beraktivitas seperti hari-hari sebelumnya, dan juga kabar gembira berupa istri yang cerdas. Alhamdulillahirabbil ‘alamin.

Salam terindah,
heane

 

4 responses »

  1. tukangobatbersahaja mengatakan:

    Saya ingin menjelaskan sedikit mengenai cara minum obat yang benar.

    ketika obat masuk kedalam tubuh dia akan melewati proses pencernaan dan obat akan diserap dengan baik sampai memberikan efek terapi. Efek terapi ini harus terus berada didalam tubuh dengan periode yang benar biar efeknya tetap terasa.

    Jika tertulis obat diminum 3 X sehari. artinya dalam sehari 3 kali diminum… tinggal dibagi saja. 1 hari =24 jam : 3 = 8 jam.

    Jadi obat diminum jam 6 pagi, 2 siang, 10 malam. Kalo jam 6 belum bangun tidur, ya minumnya jam 7 pagi- 3 sore -11 malam. Mudah kan.

  2. myheane mengatakan:

    Benar, dan akhirnya seperti terakhir saya tulis di atas, saya memilih untuk meminum obat dari dokter itu tiap 8 jam sekali.
    By the way, masukan yang bagus, terimakasih telah sudi berkunjung.

  3. Info dahsyat mengatakan:

    Betul…..menyedihkan sekali ya keadaan negara kita. Biaya kesehatan mahal, tidak ramah, tidak kooperatif dan tidak transparan!! Soal pengalaman buruk saat berkunjung ke dokter saya juga ada :

    http://fazhaji.wordpress.com/2009/08/24/tukang-dokter-terima-scan-usg-hanya-70rb/

  4. Ivan Suriff mengatakan:

    saran saya buat teman bloger..
    untuk pemeriksanan penyakit dan apa obatnya serahkan sama dokter.
    sedangkan untuk mengecek kembali apa penyakit dan obat yang diberikan sesuai apa tidak serta bagaimana tentang obat itu sendiri serahkan pada ahlinya yaitu Apoteker / ahli farmasi.
    sekedar berbagi pengetahuan silahkan kunjungi..
    http://www.farmasikomunitas.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s