Sejenak pagi tadi mencoba mengunjungi Perpustakaan Daerah Kota Bekasi, yang ternyata jaraknya dari rumah tinggal menyeberang satu jalan saja sudah sampai. Berapa lama tinggal di sini baru hari ini sempat mengunjunginya, tidak seperti masih dikampung dulu, jarak yang sedemikian jauh, naik motor saja sekitar 20 menitan, dijalani sesering mungkin.

Letaknya di komplek kantor walikota, jelas sangat mendukung bagi siapapun yang hendak mengunjunginya, dengan tempat yang lumayan nyaman, walaupun ruang parkir yang tersedia minim. Tapi cobalah masuk untuk pertama kalinya.

Masuk pintu disana aku disambut oleh penjaga perpustakaan yang hanya satu orang berbeda dengan perpusda yang dulu kukunjungi dijaga oleh tiga orang belum kalau ada anak SMK lagi PKL, kemudian aku dipersilakan mengisi buku tamu yang ketika aku mulai menulis, saat itu sudah hampir jam sebelas siang dan kubaca aku adalah pengunjung ke-4, ada apa ini? Padahal di daerah dulu sebelum jam perpustakaan buka sudah banyak yang menunggu pintu dibuka, walau mereka datang hanya sekedar membaca Koran harian, tapi paling tidak kelihatan berapa pengunjungnya per hari. Dalam pikiranku, ada apa dengan Pemda di sini, sehingga masyarakatnya tidak suka dengan perpustakaan, padahal dengan perpustakaan kan merupakan buku gratis yang siap untuk dibaca dan dipelajari.

Kembali ke perpustakaan, kemudian mulai masuk ruangan menaruh tas dan jaket di tempat penitipan, terlihat berjajar-jajar rak buku dengan demikian banyak buku yang menjejalinya, ah, kelihatannya agak banyak jika hanya dilihat dari depan saja.

Kulangkahkan kakiku selanjutnya memasuki ruang perpustakaan, begitu kecewanya diriku ketika kutemui rak-rak yang berjajar ternyata isinya tidak sepenuh yang kuperkirakan, hanya sebagiannya saja yang terisi, dan sebagian lagi tidak terisi dengan buku, bahkan ada beberapa rak yang sama sekali kosong.

Dari koleksi buku yang ada juga sangat  minim, sangat sedikit, dari kategori umum, sejarah, ekonomi, pengetahuan, dan lain-lain, semuanya sangat sedikit judul buku yang ada bahkan tidak ter-up date dengan zaman sekarang.

Kemudian kutemui juga ruang baca anak, ternyata rak-raknya justru kosong tanpa koleksi sama sekali, ada beberapa buku, itupun buku dari kategori lainnya yang numpang baca di tempat itu. Tidak ada anak-anak di sana, hanya dua meja baca dan… kok ada beberapa sajadah di sini, buat shalatkah? Tapi sementara itu kupendam sebagai pertanyaan semata, aku belum mau tahu lebih banyak.

Kulewati juga koleksi Koran yang ada, sangat minim, hanya beberapa nama Koran yang ada di sini, sangat berbeda dengan ketika di daerah dulu, hampir semua Koran dan tabloid nasional ada di sana, dan majalahnya juga sangat beragam, sedangkan di sini?

Tak terasa kulewati rak buku dengan label kategori Bahasa dan Sastra, letakknya agak di belakang, hampir bertemu dengan pintu keluar belakang. Pintu keluar belakang? Ada pintu keluar ke belakang, aku tak mempedulikan lagi buku-buku  yang ada di rak itu, mataku langsung tertuju di luar ruangan di balik jendela, seperti ada rak warna-warni terlihat dari sana, dalam pikiranku itu ruang bermain untuk anak, hebat juga di sini… tapi, seketika aku kaget melihat apa yang ada, ternyata rak yang terlihat warna-warni itu adalah rak buku yang tidak tepakai, dan jumlahnya ada banyak, heran, bukannya dimana-mana perpustakaan itu selalu kekurangan rak buku karena semakin bertambahnya koleksi buku, tapi kenapa di sini kesannya malah berkurang koleksinya sehingga kemudian raknya di taruh di luar ruangan. Di luar ruangan itu juga aku temukan sebuah bangunan kecil, dan tertulis di tembok depannya dengan tulisan yang sangat jelas, “MUSHALA”, tapi siapa sangka ternyata di dalam mushala itu bukannya tempat bersih untuk beribadah tapi justru berisi kursi dan rak rusak yang bertumpuk tak beraturan, ternyata, Mushala-nya telah berubah fungsi menjadi Gudang, dan tempat wudhu-nya pun tidak layak lagi dipandang, pantas saja tadi kulihat ada beberapa sajadah di ruang baca anak, karena hanya ruang baca anak itu yang dilapisi karpet dan diperbolehkan masuk jika melepas alas kaki.

Kulangkahkan kembali kakiku masuk kembali ke ruang koleksi buku, tentunya dengan beragam kekecewaan. Kuambil beberapa judul buku yang kupikir bagus untuk kubaca, kemudian segera mencari meja baca, lho… kok meja baca yang ada begini, sebagian terisi mesin tik, dan sebagian lain malah terisi kopi susu yang sudah hampir habis isinya, mana meja bacanya? Terpaksa aku ke ruang baca anak tadi yang kuanggap layak untuk membaca.

Masih dengan kekecewaan, akhirnya tak kuselesaikan membaca buku-buku itu, dan terpikir untuk segera beranjak dari ruangan itu, dan… pulang.

Perpustakaan ini sangat berbeda dengan perpustakaan yang sering kunjungi di daerah dulu, yang ramai pengunjung, jadi kesannya berebutan mengambil buku, dan mengambil tempat duduk yang ada, dan  memang seperti itulah, sangat berbeda dengan perpusatakaan ini yang sangat lengang dan sepi bahkan meja baca pun tidak ada.

Di perpustakaan di daerah dulu, bahkan aku datang dua tahun yang lalu, malah sudah tersedia satu komputer dengan koneksi internet yang bebas dipakai oleh pengunjungnya, walaupun jam pakainya saat itu masih dibatasi, tetapi paling tidak lebih baik daripada di sini Kota Bekasi, kota penyangga Jabotabek, ternyata tidak mengajak warganya untuk mendatangi perpustakaan milik mereka.

Mungkin mereka lebih suka membaca di tempat lain, atau membeli buku sendiri, dan semoga seperti itulah keadaanya, daripada bermain kemungkinan yang tidak pasti.

Sekali lagi, miris mengalami kejadian seperti hari ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s