“Jangan terlalu banyak berharap jika seseorang memberimu perhatian lebih, bisa jadi, kamu akan bersedih dan menyesal setelahnya.” (heane)

Lebih tepat kalimat ini saya tujukan kepada mereka yang sedang menjalin pertemanan, kemudian tergoda dengan godaan syahwatnya sehingga berpikir lebih dari pikiran akal sehatnya, yang seharusnya sebagai teman dan sahabat adalah saling mendukung, saling memahami dan saling pengertian antara satu dan lainnya, lain halnya seperti pacaran yang bahkan jika dipikir dengan akal sehat justru negatif.

Tunggu dulu, saya tidak akan membahas tentang pacaran di sini, walaupun mungkin di lain waktu akan saya bahas lebih mendetail tentang kerugian pacaran yang ternyata lebih dominan daripada manfaatnya. Pembicaraan kali ini adalah tentang persahabatan, yang kemudian pada persahabatan tersebut timbul benih-benih suka namun keduanya tidak ada satupun yang mulai mengungkapkan perasaannya.

Untuk lebih mudah memahami apa yang saya bicarakan di atas mari kita simak kisah berikut,

Ada dua anak laki-laki dan perempuan, keduanya masih sama-sama duduk di bangku SMA, hanya saja keduanya berlainan kota tempat tinggal, walaupun asal keduanya adalah dari kampong yang sama.

Pada kenaikan kelas tiga mereka mulai dekat, karena sebelumnya walaupun intensitas pertemuan keduanya bisa dibilang sering tapi tidak banyak pembicaraan di antara mereka. Singkat kata, setelah mulai dekat tersebut, mulailah terjalin komunikasi yang kontinyu, baik melalui surat maupun sarana lainnya.

Sesekali terselip dari tulisan keduanya dalam surat-surat mereka, kata-kata yang menyinggung sebuah hubungan khusus lebih dari teman, dengan kalimat-kalimat yang romantis, tapi seakan keduanya tak saling mengerti, atau memang masih belum paham, entahlah…

Satu hal yang pasti, ada berita di luar mereka berdua bahwa mereka berdua telah jadian dalam artian pacaran, dan ketika sang laki-laki konfirmasi berita tersebut kepada teman dekat teman wanitanya, ternyata benar apa yang dikatakan orang-orang di luar mereka, bahkan teman wanita ini juga tidak tahu bahwa mereka hanyalah berteman, tapi ada yang mengatakan kepadanya kalau mereka berdua telah pacaran.

Aneh, padahal belum pernah sekalipun anak laki-laki ini secara eksplisit menyatakan cinta ‘I love you’ kepada teman wanitanya, hanya saja, memang pernah ia menuliskan kata-kata yang jika dibilang romantis sebenarnya tidak juga, hanya sebuah lirik lagu yang sedang tren saat itu kepada teman wanitanya, tetapi maksudnya adalah menyemangati belajarnya bukannya sebagai ungkapan cinta.

Begitulah seterusnya terjadi tanpa ada kejelasan antara keduanya, sampai pada suatu waktu anak laki-laki ini tidak membalas beberapa surat wanita tersebut, walaupun terus ia dikirimi surat, kartu-kartu, dan hadiah, tetap saja tak dipedulikan, sampai akhirnya wanita inipun bosan dan merasa benci dengan teman laki-lakinya yang telah berteman selama tiga tahunan lamanya.

Insya Allah kisah selengkapnya tentang dua anak ini akan saya tulis dalam tulisan tersendiri di lain waktu. Semoga dimudahkan.

Apa yang dapat kita ambil hikmah dari kisah tersebut di atas?

Ternyata wanita itu benar-benar makhluk yang lemah, hanya dengan sedikit perhatian dari teman laki-laki seperti itu sudah dianggapnya sebagai lebih dari sekedar perhatian sebagai teman.

Itulah yang saya maksudkan dalam awal tulisan ini,

“Jangan terlalu banyak berharap jika seseorang memberimu perhatian lebih, bisa jadi, kamu akan bersedih dan menyesal setelahnya.”

Akhirnya yang terjadi adalah sesal dan sedih karena dengan sebab itu putuslah pertemanan dan persahabatan mereka.

Kelihatannya sepele, tapi karena sifat dan pembawaan manusia itu tidak ada yang sama maka segala sesuatu bisa terjadi. Ada kalanya seseorang itu lebih sensitif dan sulit memaafkan kesalahan temannya daripada orang lain, dan ada kalanya orang lain mudah memaafkan kesalahan orang lain walaupun terjadi beberapa kali. (by: heane)

3 responses »

  1. Hendry Ferdinan mengatakan:

    Persahabatan sejati layaknya kesehatan, nilainya baru kita sadari setelah kita kehilangannya..lam kenal🙂

  2. orriza mengatakan:

    Kisah yg mengharu biru….

    Nitip artikel buat ibu2 rumah tangga biar nggak terlalu khawatir dgn bakteri Sakazakii :

    http://storyza.wordpress.com/2011/03/06/tentang-bakteri-enterobacter-sakazakii-tak-perlu-risau-lah/

  3. […] Sebuah Kisah Akhir Pertemanan […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s