An example of Allāh written in simple Arabic c...

Image via Wikipedia

“Ssstttt… shalat dulu!”

Hanya itu jawaban yang kuterima ketika telepon dini hari itu memanggilku.

Kamarku masih gelap, tapi dari layar handphone yang meskipun agak redup tapi samar-samar dapat kubaca siapa yang meneleponku malam-malam begini.

Entah kenapa, aku langsung bergegas bangun dan menuju kamar mandi, kemudian wudhu dan shalat, dalam keadaan yang sangat jarang akhir-akhir ini aku melakukan shalat malam begini, paling rajin dulu adalah ketika menjelang ujian akhir SMU, rajin banget shalat malam karena berharap kelulusan yang tidak mengecewakan, dan Alhamdulillah tercapai apa yang kumohonkan. Tapi sekarang ini, dia seperti memotivasiku untuk segera melaksanakan, padahal ia berada jauh di luar kota.

Rasa ngantukku langsung hilang, dan tak terasa rakaat demi rakaat aku jalani sampai selesai sebelas rakaat malam itu. Seperti ada semangat baru dalam hidupku.

Dia adalah temanku, sahabatku yang telah lama kita saling berbagi cerita, berbagi pengalaman, kisah, dan kehidupan masing-masing. Dia juga salah satu wanita yang sangat berperan dalam kehidupanku, kedewasaanku dalam berpikir, salah satu yang memotivasiku dalam menjalani segalanya dengan bijak dan cerdas.

Persahabatan kami cukup dekat, walaupun sejujurnya pertemuan kami hanya sekali pada saat kami kenalan, tapi kemudian berlanjut komunikasi via email, dan selanjutnya handphone, akhirnya persahabatan kami semakin dekat.

Karena kedekatan kami, aku pribadi pernah mengadukan ini pada salah seorang ustadzku, bagaimana dan apa yang seharusnya aku lakukan, dalam keadaan aku mengetahui hukum khalwat seperti ini walaupun hanya lewat email atau telepon, dan aku dinasehati dengan nasehat yang sangat berharga dan sangat dalam sekali. Nasehat beliau ringkas tapi mengena, beliau hanya bilang, “Ajak nikah saja, tanyakan kepadanya, mau tidak menikah denganku?” hmmm.. beliau berkata seperti ini barangkali karena menganggap aku paham hanya dengan jawaban seperti itu, dan insya Allah aku paham maksud dari nasehat beliau walaupun hanya kalimat itu yang terucap dari lisan beliau.

Aku berpikir kembali, saat ini aku masih kuliah, masih tingkat awal demikian juga dia, bahkan dia adalah tiga tahun di bawahku. Mungkinkah semudah itu untuk mewujudkannya.

Pernikahan? Masih terlalu dini untuk melakukan itu, aku merasa belum siap untuk itu, tapi aku takut fitnah ini akan mengganggu konsentrasiku dalam belajar, apalagi yang kupelajari juga ilmu syar’i yang tidak boleh padanya, bahkan haram tercampur dengan perbuatan maksiat.

Keinginan menikah memang ada pada diriku, karena sebagai makhluk normal aku juga punya keinginan itu dan itu adalah fitrah sebagai manusia yaitu menjalin hubungan serius dengan lawan jenis, dan itu perwujudannya adalah dengan pernikahan. Aku sempat menargetkan pernikahanku pada umur 25 atau 26 dan aku tidak ingin lewat umur itu. Sedangkan umurku saat ini? Baru 21… terlalu dini bagiku, tanpa ada kesiapan aku takut untuk menjalaninya dan lagi orang tuaku juga belum tentu menyetujui jika aku menikah saat ini. Begitu juga dia, aku yakin tidak akan mau semudah itu menerima jika aku mengatakannya saat ini kepadanya.

Malam berikutnya, aku shalat istikharah, aku berpikir saat itu, shalat istikharah hanya boleh dilakukan pada malam hari sebagaimana shalat tahajud, padahal sebenarnya shalat istikharah dapat dilakukan kapan saja asalkan bukan waktu terlarang untuk shalat. Begitu juga shalat istikharah ini sempat kulakukan beberapa kali, walaupun yang shahih adalah cukup dilakukan satu kali saja untuk sebuah permohonan yang diinginkan.

Aku berdoa waktu itu, jika dia adalah yang terbaik bagiku dan merupakan jodohku aku memohon pertemukanlah kami dalam ikatan suci, namun jika dia memang bukan jodohku, berilah jalan terbaik bagi kami untuk tetap menjalin silaturahim di antara kami.

Itu di antara doaku untuknya yang ku mohonkan kepada-Nya.

By: heane

One response »

  1. […] Doaku Yang Kumohon Adalah Untuknya […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s