Seseorang itu dapat berjalan bersama dengan seorang lainnya karena kesamaannya bukan karena perbedaannya, karena jika melihat perbedaannya niscaya salah satunya akan menghindar dan tidak akan bersama.

Sebagaimana seorang tentara ia akan berada dalam seragam yang sama, karena disanalah ia mempunyai kesamaan, dan tidak akan berperang dengan menggunakan seragam yang berbeda, karena berarti itu akan menjadi bencara baginya.

Di sini kita melihat keumumannya saja, bukan dari sisi pandang yang lain. Secara umum manusia akan dapat berjalan bersama dengan yang lainnya karena mereka melihat ada kesamaan pada diri mereka.

Burung akan berkumpul dan terbang hanya dengan burung yang sejenis dengannya, semut juga demikian tidak akan berjalan bersama-sama dengan yang berbeda jenis dengannya. Air juga akan berkumpul dengan air, demikian juga minyak akan berkumpul dengan minyak, dan tidak akan bisa antara air dan minyak untuk bersatu.

Seperti juga dalam sebuah komunitas/kelompok, semua anggotanya berkumpul karena mereka mempunyai kesamaan dan visi yang sama, sehingga sekiranya mereka tidak sama dalam pandangannya, niscaya mereka akan keluar dan mencari dan memilih komunitas lain yang dianggap mewakili apa yang dirasakannya, dengan kata lain yang sama dengan visinya.

Maka jika ada seseorang yang menyelinap ke dalam sebuah komunitas atau kelompok tertentu, sedangkan ia menyadari bahwa ia sesungguhnya berbeda dengan mereka, maka tentulah ia akan berusaha menjadikan dirinya seolah-olah sama dengan mereka agar tidak dicurigai karena bisa dianggap sebagai mata-mata atau istilah sejenis lainnya. Yang seperti ini maka ia sebenarnya tidak jujur dengan apa yang ada pada dirinya, bisa jadi jika demikian, sebenarnya pada dirinya ada niatan jahat atau ingin memata-matai kelompok yang sedang pura-pura diikutinya, karena ia sadar bahwa sesungguhnya ia berbeda dengan mereka dan tidak akan pernah sama dengan mereka. Sekali lagi persamaan itu adalah yang menjadikan adanya persatuan, sedangkan perbedaan sekecil apapun adalah bencana bagi persatuan tersebut, yang lambat laun akan memecah belah persatuan yang telah terjalin.

Jika ada yang menyatakan, bukankah antara laki-laki dan wanita itu berbeda, dan mereka akhirnya bisa bersatu dan bersama dalam menjalani hidup?

Maka kita katakan, kita melihat pesamaan yang menjadikan bersatunya satu dengan lainnya adalah dari keumumannya, jika seorang laki-laki dan wanita bersatu dalam ikatan pernikahan, maka itu adalah umum dan merupakan fitrah sebagai manusia dalam kehidupannya, karena jika seorang laki-laki menikahi laki-laki atau wanita menikahi wanita, maka ia telah keluar dari keumuman sebagai manusia yang normal dan ia dihukumi syadz (ganjil/aneh) karena ia berbeda dengan manusia lainnya, dan ia telah keluar dari fitrahnya sebagai manusia.

Dan tidak akan terjadi pernikahan antara seorang laki-laki dan wanita jika tidak ada kesamaan dalam diri mereka, dalam perjalanan pernikahan mereka juga, jika tidak ada persamaan dalam visi dan pemikiran mereka dan mereka tidak bisa lagi menyatukannya, niscaya akan terjadi perceraian/perpisahan di antara mereka. Jadi dapat disimpulkan bahwa kesamaanlah yang menyebabkan adanya persatuan, sedangkan perbedaan adalah azab/bencana dalam sebuah kebersamaan.

Pernyataan seseorang lainnya, bukankah ada hadits yang menyatakan bahwa perbedaan adalah rahmat?

Maka kita katakan, haditsnya siapa, secara bahasa hadits artinya adalah perkataan, dan kata hadits selalu disandarkan kepada perkataan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan tidak ada riwayat yang shahih bahwa perkataan “Perbedaan yang ada pada ummatku adalah rahmat” adalah merupakan perkataan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang ada itu adalah hanyalah perkataan manusia yang kemudian disandarkan perkataan tersebut kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dinamakan yang seperti ini adalah sebagai hadits maudhu’/hadits palsu, dan tidak boleh bagi seorang muslim menjadikan hadits palsu sebagai pegangan apalagi dalam syariat seseorang yang dengan sengaja menyandarkan sebuah perkataan manusia sebagai hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam maka sama saja ia telah menyiapkan tempat duduknya di neraka. Wal iyadzubillah..

Dari sini pula, kita peroleh hikmah, yaitu:

Persamaanlah yang menjadikan satu dan lainnya bersatu, dan perbedaanlah yang akan memecah persamaan itu. Persamaan juga yang akan membuat sebuah hubungan langgeng dan terjaga keharmonisannya, jikalau ada perbedaan maka akan segera diredam dengan kebersamaan, jikalau tidak mampu meredam perbedaan yang ada niscaya tidak akan berlanjut hubungan yang telah mereka jalani, karena tidak bisa yang berbeda itu untuk bersama, sebagaimana minyak dan air.

Dari sebuah persamaan pula kita bisa menilai seseorang, jika kita ingin melihat kepribadian seseorang, maka cukup kita ketahui dari teman dekatnya, maka akan kita ketahui tentang pribadinya, begitulah karena seseorang itu bersama dalam keyakinan yang sama dengan orang lainnya (al mar’u ‘ala diini khalilihi).

Kebersamaan pula yang akan menahan seeorang untuk membuka aib temannya, karena jika ia membuka aib temannya maka bisa jadi akan terjadi permusuhan antara keduanya dan tidak akan ada lagi kebersamaan pada mereka.

Wallahu a’lam.

By: heane @ Bekasi di pagi hari, 06:41 13082011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s