Pagi-pagi ibu sudah sibuk menyiapkan makan pagi buat sekeluarga, karena hari itu hari ahad/mnggu maka semua anggota keluarga kami berkumpul. Bikin air minum teh panas buat bapak sudah. Masak nasi sudah. Tapi masih ada yang kurang, yaitu lauknya apa?

Akhirnya, “Nak, beliin mi di warung sebelah dua buah, ini uangnya lima ratus rupiah, jangan lupa kembaliannya.”

Ibu menyuruhku untuk membelikan mi instan di warung sebelah. Diberi uang lima ratus rupiah beli mi instan dua buah, harganya satu buahnya seratus lima puluh rupiah, berarti masih ada kembalian dua ratus rupiah, aku berpikir sejenak, tapi ibu juga berkata, “…Jangan lupa kembaliannya.” Berarti aku tidak boleh menggunakan uang kembalian buat jajan atau buat masuk saku sendiri. Aku pun pulang ke rumah membawa seperti apa yang ibu pesan, yaitu mi instan dua buah dan uang kembalian dua ratus rupiah.

Karena hari itu hari ahad yang berarti hari libur, maka kami berkumpul sekeluarga yang terdiri dari enam orang, bapak, ibu, dan kami ke empat anaknya. Sebagaimana kebiasaan kami, ibu masak mi tersebut 2 buah, masing-masingnya dibagi menjadi tiga mangkok, terbayang kan berapa banyak porsi mi yang kami dapat, dari mi yang per bijinya kurang dari lima ratus gram tersebut dimasak dan dibagi tiga, jadinya lengkap, semuanya dapat porsi kecil mi satu mangkok.

Tapi sepertinya Ibu masih merasa kurang jika makan kami cuma nasi dan mi, maka ibu pun berinisiatif menambahkan telur dadar sebagai pelengkap makan kami hari itu. Maka ibu menyiapkan dua telur ayam kampung dari kandang di belakang rumah dan mulai menggoreng dadar. Ibuku masih kurang puas dengan dua telur itu, ibu merasa dua buah telur masih kurang atau sangat sedikit jika dibagi menjadi enam potong, terlalu kecil kata ibu. Maka ibu kemudian menyiapkan seperempat kelapa kemudian diparut, dan kemudian parutan kelapa itu dicampurkan dalam adonan telur, kemudian baru digoreng. Jadilah telur yang semula terlalu kecil jika dibagi menjadi enam potong, sekarang terlihat lebih tebal dan mencukupi untuk dipotong menjadi enam bagian.

Setelah semua dirasa beres oleh ibuku, mi sudah siap dalam enam mangkok, telur sudah dipotong menjadi enam bagian, tinggallah kami sebagai anak-anaknya saling mengintip hendak berebutan mana porsi mi yang paling banyak ibu menaruh di mangkok, terkadang kami harus berantem demi semangkok mi yang terlihat lebih banyak dari porsi mangkok yang lain.

Begitulah yang terjadi dalam keluarga kami sehari-hari, saling berebutan, bahkan kadang sampai berantem demi sepotong kue, atau semangkok mi, dan ujung-ujungnya bapaklah yang mengalah membagikan mi-nya untuk kami berempat, sampai akhirnya kami diam dan makan dengan tenang.

***

Sekilas jika kita melihat cerita di atas, mungkin ada kejanggalan, yaitu:

Mi instan harganya cuma seratus lima puluh rupiah, padahal kan harganya sekarang saja satu bijinya sudah seribu lima ratus rupiah.

Perlu diketahui, kejadian ini adalah kisah kami sekeluarga sewaktu kami masih kecil, masih tahun delapan puluh-an dimana harga mi masih seratus lima puluh rupiah satu bijinya, itupun saat itu sudah terbilang mahal, karena harga makanan kecil saat itu masih bisa dibeli dengan harga dua puluh lima rupiah dan ada juga yang kurang dari harga itu.

Cerita ini adalah kisah nyata, cerita masa kecil kami ketika masih di kampong berkumpul bersama bapak, ibu dan ketiga saudaraku. Cerita ini adalah sebagai kenangan masa kecil kami, dimana saat itu kami masih berkumpul penuh sekeluarga. Berbeda dengan sekarang, kami sebagai anak-anaknya sudah menyebar di mana-mana, bahkan ada yang sampai ke luar negeri. Sampai-sampai orang tua kami bapak ibu cuma tinggal berdua seolah pengantin baru yang belum punya anak.

Pada lebaran pun belum tentu kami dapat berkumpul seperti saat itu lagi, adalah saat-saat yang sangat langka kami bisa berkumpul berenam lagi, karena kami masing-masing sudah punya anak-anak sendiri sehingga kemungkinan seperti saat itu juga sudah teramat langka.  Sekarang keramaian rumah bapak ibu ketika lebaran berganti dengan ramainya cucu-cucu yang berantem berebut makanan atau terkadang berebut apa saja yang ada. Yang pasti masih ramai pada saat lebaran saja.

Itulah dinamika hidup, semua berubah, dan pastinya semuanya akan berubah. Dari sendiri kemudian bertambah suami atau istri kemudian bertambah anak, dan akhirnya setelah dewasa anak-anak menyebar mencari kehidupan sendiri tinggallah orang tua berdua lagi.

Aaahh, ingin rasanya mengulang masa-masa kebersamaan itu, bersama kakak-kakak berkumpul bersama keluarga saling mengintip dan berebut makanan. Walaupun kemungkinan itu sangat kecil tapi setidaknya harapan itu akan tetap ada di antara kami.

Terimakasih bapak, terimakasih ibu, terimakasih kakak-kakakku, terimakasih semuanya. Kalian adalah orang-orang yang mempengaruhi hidupku sampai akhirnya aku seperti saat ini.

Bekasi, 17/11/2011
By: heane

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s