Aku tarik penaku kembali dari kertas itu, aku diam seakan tak ada inspirasi, aku tak tahu lagi.

Aku bangun dari dudukku, kubuka pintu kamarku, cuma kulihat ibuku sendirian di depan televisi. Kulanjutkan langkahku, kubuka pintu rumah depan, di luar hening, tapi kulihat dua remaja dengan rokok menyala di tangannya duduk di tepi jalan itu. Tak ada suara apapun saat aku datang, masih diam dengan renungannya masing-masing.

“Sebelum aku merubah diriku, tak akan aku pulang kepada orang tuaku.” Satu orang Nampak membuka percakapan dengan serius.

“Dan kenapa harus kau hindari mereka?” terdengar temannnya balik bertanya.

Entah apa yang mereka bicarakan aku tak paham. Mereka seperti tak menggubris kedatanganku sampai kudengar jawaban salah satu dari mereka.

“Bukan kuhindari, aku cuma berusaha menyesuaikan dengan keadaan di sini, aku suka di sini, dan aku juga senang di sana bersama keluargaku.”

“Di sini aku juga sendiri tanpa family, cuma teman dan orang lain yang seperti tak mengenaliku”.

Aku masih diam mendengar percakapan dua orang itu. Aku cuma samar bisa melihat wajah mereka karena cahaya lampu mercury yang terhalang pohon jalan. Dan aku seperti kenal dengan wajah itu. Tapi siapa?

“Eh, sori nih, udah malam, balik dulu deh..”

“Okey, aku juga mau balik, besok berangkat bareng, bisa?” kata salah satu dari mereka sambil bangkit dari  duduknya.

“Masuk pagi sama masih? Bisa, bisa.” Jawabnya dengan melangkahkan kaki ke rumah dekat pertigaan jalan di depan dan kulihat juga seorang yang satu lagi juga pergi meninggalkanku.

Suasana masih sepi tak ada motor atau mobil lewat bahkan lalu lalang orang pun tak ada sampai aku teringat sesuatu. Mereka tadi adalah anak-anak rantau yang kost di rumah Pak Jono dan Pak Dibyo.

Aku sering dengar cerita tentang mereka, dari Si Dodi anak Pak Jono, yang masih seusiaku, yang pernah bilang tentang anak yang di rumahnya, bahwa selain kuliah biasanya hanya di kamar terus. Dan seabreg cerita tentang mereka dari orang-orang di kampungku.

Angin terasa dingin menusuk tulang. Dan aku masih berdiri di pinggir jalan depan rumahku. Kuamati sekeliling, sepi. Kulihat kios depan rumahku juga sudah tutup padahal biasanya jam segini masih buka, kulihat jam tanganku, masih jam 21.30. Belum begitu malam bagiku, bahkan langit cerah dan bintang bertaburan dan bulan separuh masih terus menemaniku.

Aku masih diam sampai akhirnya kulangkahkan juga kakiku masuk kembali ke dalam rumah dan masuk kembali ke kamarku, sedangkan ibuku masih menonton televisi sendirian. Kurebahkan tubuhku dan kupejamkan mataku untuk menyambut esok hari dengan penuh harapan.

By: heane @Bekasi, 22112011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s