Suatu hari Darmin baru pulang dari bepergian entah kemana, tapi ia tidak langsung pulang, ia nongkrong dahulu di pertigaan tempat ia biasa berkumpul bersama teman-teman sebayanya.

Sampai pada sebuah obrolan bahwa ia baru saja dari tempat si A di kampung sebelah, tiba-tiba temannya menyambut ceritanya dengan mengatakan bahwa dia kenal dengan Si A yang dimaksud Darmin dan dia juga paham tentang kampung yang dimaksud Darmin.

Maka kemudian ia menanyakan kepada Darmin, “Si A sekarang rumahnya masih yang dulu?”

“Ia.” Darmin menjawab dengan mantap.

Dan sepertinya teman Darmin ini kurang percaya dengan cerita Darmin, hal itu karena Darmin sudah dikenal sebagai orang yang suka berdusta, berbohong jika bercerita.

Maka kemudian ia menanyakan kepada Darmin, “O ya, rumah Si A sebelah mana sih?” ia pura-pura tidak tahu tentang rumah Si A.

“Itu yang di samping masjid.” Darmin masih menjawab dengan mantapnya tanpa sadar bahwa ia sedang diinterogasi.

“Beneran disana?” kata temannya, semakin memantapkan dugaannya bahwa kali ini Darmin juga berbohong.

Sebagai Negara Muslim seperti di Indonesia ini akan mudah kita temui bangunan masjid di setiap kampung/desa yang kita kunjungi, maka dengan kita mengatakan bahwa kita baru dari kampung sebelah yang rumahnya ada masjidnya pastinya orang akan mengangguk, bahwa di sana memang ada masjid, kadang tanpa menanyakan lebih detail dari jawaban masjid yang dimaksud.

“Ia beneran tadi aku baru dari sana ketemu si A di depan rumahnya.” Seolah Darmin ingin meyakinkan kepada temannya.

“Kamu gak bohong kan, Min?” Tanya temannya lagi.

“Sumpah, beneran.” Sekali lagi Darmin sampai berani bersumpah segala untuk meyakinkan.

“Sebenarnya saya paham kampung yang kamu maksud, letak masjidnya juga saya tahu, masjid di sana cuma ada satu di ujung kampung, dan tidak ada lagi masjid lain di kampung itu, walaupun mushalla di sana juga tidak ada. Dan di sana masjid itu di depannya tanah kosong, sedangkan di samping kanannya kuburan, dan di samping kirinya jurang yang dalam. Saya jadi penasaran Min, tadi kamu sampai bersumpah-sumpah dari sana mengobrol dengan si A di depan rumahnya di samping masjid, sebenarnya kamu ngobrol sama siapa, Kuntilanak? Genderuwo? Karena yakin di samping masjid itu tidak ada rumah yang ditempati penduduk, selain kuburan dan jurang.” Temannya inipun menjelaskan panjang lebar tentang masjid di kampung yang diceritakan Darmin.

“Hahahahaha….” Riuh ramai terdengar teman-temannya menertawakan Darmin dan cerita bohongnya.

Akhirnya Darmin cuma diam dan seolah tanpa rasa berdosa akan kebohongannya hanya tersenyum. Karena malu ketahuan bohongnya akhirnya ia pun pergi dari tempat itu dan pulang.

Sebuah kisah yang bisa kita jadikan contoh agar seseorang itu sebaiknya tidak sok tahu. Karena bisa jadi kita yang merasa tahu akan sesuatu tapi kita menceritakannya dengan kebohongan, suatu saat pasti akan terkuak dan diketahui oleh orang lain, dan akibatnya, bukan cuma malu, tapi juga teman-teman kita akan hilang kepercayaan kepada kita karena kebohongan kita.

By: heane

 

Artikel yang berkaitan:

One response »

  1. blogerool mengatakan:

    WOOWW,…..nice artikel,…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s