Jelas aku sedih mendengarnya, aku tak mengira juga akan seperti ini akhirnya, di usiamu yang masih belia, usia yang seharusnya kamu sedang merasakan senangnya ketika mempunyai KTP atau SIM pertama kali, sehingga bisa kamu perlihatkan kepada teman-teman kamu bahwa kamu bukan anak kecil lagi, bahwa kini kamu sudah menginjak usia 17 tahun. Dan seperti kamu katakan di facebook kamu bahwa kamu sudah dewasa sekarang.

Di usiamu, sebagaimana usiaku dulu, juga pernah seusiamu, menikmati masa-masa sekolah dengan keceriaan, main kesana kemari, bolos sekolah hanya untuk ke suatu tempat atau hanya karena telat masuk. Pulang sekolah telat, alasan kepada orang tua dengan bermacam-macam alasan yang bisa mereka terima dan masuk akal. Atau pengalaman dengan nilai rapot yang merah padahal itu pelajaran pendidikan jasmani dan olahraga dan itu terjadi pada setengah dari keseluruhan siswa satu kelas, karena selama satu catur wulan kami hanya beberapa kali ikut olah raga praktek di lapangan. Dan banyak lagi pengalaman yang mengesankan selama masa-masa sekolah di usiamu.

Satu hal yang berbeda, aku tidak pernah pacaran. Mungkin aku akan dibilang cupu atau istilah lain yang serupa seperti itu, tapi aku tidak merasa apa-apa, yang aku rasakan saat itu, dengan lawan jenis aku lebih memilih menjadikannya sebagai sahabat tempat aku mencurahkan segala yang aku rasakan, sampai-sampai aku sendiri merasakan bahwa sahabatku itu sudah seperti teman plus, kenapa? Karena dikatakan sebagai teman tapi lebih sedangkan dikatakan kami pacaran tidak ada hubungan khusus di antara kami, dan itu terjadi sampai aku selesai sekolah SMA-ku. Dengan keadaan seperti ini, aku baru menyadarinya sekarang, dan aku mensyukurinya karena dengan hanya kami berteman bersahabat tapi dekat, maka tidak ada keberanian di antara kami untuk melakukan lebih dari sekedar persahabatan, karena kami telah berkomitmen untuk bersahabat berteman bukan untuk pacaran. Jangankan sampai kami ciuman atau lebih dari itu, sedangkan kami pegang tangan saja tidak pernah selain sekedar salaman ketika bertemu, itupun tidak selalu terjadi. Maka selamatlah kami dari hal-hal yang menjurus kepada kemaksiatan. Walhamdulillah.

Memang kita tak dekat, sekalipun kita masih kerabat, tetapi paling tidak ada sedikit rasa kecewa denganmu, yang mungkin sangat sulit untuk kamu lupakan. Entahlah kamu akan seperti apa dan jadi apa nantinya. Dikabarkan kamu sedang hamil, mengandung anak siapa itu entahlah, karena kamu sendiri mengakui bahwa bukan cuma satu orang laki-laki yang kamu sebut sebagai ayah dari anak itu, na’udzubillah. Kamu bilang si A yang menghamili kamu dan si A tersebut sudah siap untuk mempertanggungjawabkan dengan jalan akan menikahimu, dan itu telah disetujui juga, akan tetapi kemudian kamu juga mengakui bahwa Si B juga yang menyebabkanmu hamil, sehingga kemudian si A mundur dan tidak mau melanjutkan apa yang sudah dikatakannya. Sedangkan Si B sekarang ini tidak jelas akan bagaimana dalam mempertanggungjawabkannya, sampai terdengar kabar si B sudah tertangkap, tapi tidak jelas bagaimana sikap si B ini. Maka sekarang dengan kamu mengakui demikian, maka tidak ada yang mau lagi menjadi penanggung jawab anak yang sedang berada dalam kandunganmu. Tidak jelas siapa yang mau menjadi ayah biologis anak tersebut.

Sesekali timbul pertanyaan, kenapa kamu bisa lupa diri seperti itu? Kenapa kamu tidak berpikir panjang dengan apa yang akan kamu lakukan?  Kiranya sebagaimana yang kamu tulis di status atau komentar di facebook kamu itu benar adanya, bahwa tidak akan kamu ceritakan yang seperti itu kecuali telah terjadi lebih dari itu, dan aku kecewa ternyata itu benar adanya, sebagaimana itu juga terjadi pada saudarimu yang juga terlihat dari status/komentar di facebooknya beberapa waktu sebelumnya dan setelah itu mendadak terjadi pernikahan pada saudarimu dalam keadaan saudarimu itu sudah mengandung beberapa bulan. Oh, facebook, seharusnya ia adalah bisa dimanfaatkan yang lebih baik, sebagai sarana mendekatkan diri kepada-Nya dan untuk saling menasihati dalam kebaikan. Tetapi bagi sebagian orang ternyata telah digunakan untuk sarana kesenangan dunia semata, yang selebihnya adalah merupakan bencana bagi penggunanya.

Tragisnya, ibu kamu sekarang ini juga sedang hamil juga, dan lagi tantemu juga sedang mengandung juga. Dan kemungkinan kamu akan melahirkan anak kamu nanti di rumah nenek kamu bukan di rumah orang tua kamu, demikian juga tante kamu juga kemungkinan akan melahirkan di rumah nenek kamu juga. Walaupun ibu kamu nantinya akan melahirkan di rumahnya sendiri yang tidak jauh dari rumah nenekmu, akan tetapi betapa repotnya nanti nenek kamu harus menimang dua cucu dan satu cicit dalam waktu yang hampir bersamaan.

Aku teringat akan sebuah permisalan tentang seorang laki-laki dan seorang wanita dalam  menjaga kesuciannya. Jika seseorang terjatuh dalam kemaksiatan, maka akan berbeda yang terjadi pada laki-laki dan perempuan setelah kemaksiatan itu terjadi. Laki-laki itu seperti uang logam yang jika jatuh ke dalam lumpur, maka dengan cukup di cuci dan di lap saja maka akan kembali terlihat kilap dan bersih seperti belum pernah terjatuh dalam lumpur. Akan tetapi seorang wanita itu seperti uang kertas yang jatuh ke dalam lumpur yang jika yang kertas itu dicuci maka akan semakin hancur atau kalaupun bersih ia akan terlihat kusut tidak sebagaimana ketika sebelum jatuh ke dalam lumpur, dan apabila cara mengeringkannya dengan dilap maka akan semakin hancur dan tidak ada gunanya lagi.

Akan tetapi itu hanyalah sebuah permisalan, tentunya kita sebagai manusia adalah makhluk mulia yang dimuliakan dan tentunya masih disayang Allah ta’ala walaupun kita telah berbuat dosa besar, insya Allah dengan taubat yang benar dan sungguh-sungguh, kita akan diberi ampunan-Nya. Dan kamu masih bisa memperbaiki dirimu dengan bertaubat yang benar-benar taubat, memohon keselamatan dan ampunan atas dosa-dosa yang telah diperbuat, dan berniat sungguh-sungguh akan memperbaiki segalanya. Itu adalah lebih baik bagimu dan bagi masa depanmu. Nas’alullahas salamah wal afiyah. Wallahu a’lam.

By: heane

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s