Ketika kita bosan ketika kita marah, lihat dan perhatikanlah kepada siapa kita akan melampiaskan marah kita. Pikirkan sekali lagi apa yang akan terjadi setelah pelampiasan kemarahan kita tersebut.

Jika kita sudah menjadi orang tua. Ketika kita marah, jangan sekali-kali kita timpakan kepada anak-anak kita yang masih kecil. Pikirkan sekali lagi efek dari pelampiasanmu itu, mungkin kita akan merasa lega telah melampiaskan kemarahan kita, mungkin kita merasa lebih bijak karena merasa telah memberi efek jera pada anak-anak kita.

Tapi tahukah kita, wahai orang tua yang telah melampiaskan kemarahan itu kepada anak-anaknya?

Apakah kita sadar, secara tidak langsung kita sedang membentuk mereka menjadi apa?

Menjadi seorang yang penakut, mudah shock, takut salah, tidak pernah berani karena takut disalahkan, menjadikannya anak eksklusif yang cenderung menutup diri? Bisa jadi. Karena ia terbiasa disalahkan bahkan hanya karena sebuah kesalahan kecil.

Atau di sisi lain, mereka akan  menjadi seorang pendendam, yang suatu saat apa yang telah terjadi kepada dirinya di masa lalu akan mereka timpakan juga di masa berikutnya ketika ia sudah dewasa dan ia telah merasa super.

Ketahuilah, bahwa anak-anak kita, mereka itu sedang belajar, mereka belajar dari kehidupan mereka sehari-hari, mereka belajar dari apa yang terjadi pada diri mereka dari orang terdekat mereka, dan yang terjadi pada sekitar mereka, namun yang pasti mereka belajar, merekam setiap tindakan dari orang terdekat mereka, sedangkan kita tahu, ketika kita dan juga mereka masih anak-anak, maka orang yang paling dekat dengan mereka adalah orang tuanya.

Mereka anak-anak itu ibarat kertas putih yang siap diberi tulisan, diberi warna sekehendak orang tuanya. Sadar atau tidak sadar, demikianlah yang akan terjadi.

Sebagai permisalan adalah sebagaimana binatang. Sekali lagi ini hanyalah permisalan, agar kita bisa mengambil ibrah/pelajaran darinya, karena kita adalah manusia yang tentunya lebih mulia daripada binatang dengan anugerah akal yang kita miliki sehingga kita bisa membedakan mana tindakan binatang dan mana tindakan manusia.

Binatang, sebuas apapun tidak akan menyerang manusia jika tidak ada sebab yang akan membuatnya menyerang, misalkan diganggu, sengaja atau tidak sengaja ia merasa diganggu, itulah binatang, tidak bisa membedakan mana perbuatan yang disengaja dan mana yang tidak disengaja, ia hanya tahu ketika merasa terganggu ia menyerang.

Tabiat manusia juga kadang seringkali begitu, sebagai makhluk kita adalah lemah, ketika sedang marah atau  bosan kemudian ada yang merasa mengganggu kita, maka di saat seperti itu ada kemungkinan kita untuk marah dan melampiaskan kemarahan, yang mungkin saja orang lain itu tidak tahu bahwa perbuatannya menyinggungnya. Dalam keadaan seperti ini, melampiaskan kemarahan bukanlah jalan keluar terbaik, karena yang terjadi adalah akibat yang tidak baik dari kemarahan tersebut.

Maka, hati-hatilah ketika kita sedang marah atau bosan atau saat sedang sensitive, pergunakanlah dan kelolalah kemarahan itu dengan mengarahkannya kepada kesibukan lain yang lebih bermanfaat, jangan sekali-kali melampiaskan kemarahan itu kepada anak-anak, yakin dan percaya, setelah memarahi mereka kita akan menyesal setelahnya. Karena setelahnya kita baru menyadari bahwa yang mereka lakukan yang membuat marah itu mungkin saja tidak atau tanpa sengaja atau bisa jadi karena ia belum tahu atau bisa jadi karena mereka belum kita ajari.

By: heane

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s