Terkadang dan senantiasa manusia itu tidak dalam satu keadaan, ada kalanya tertawa dan ada kalanya sedih. Dan tidak akan pernah terlewat keduanya pada setiap manusia.

Ada kalanya ia butuh teman dan ada kalanya ia hanya cukup bersendirian, tidak salah jika seseorang butuh teman untuk bicara, bercerita tentang masalahnya, dan tidak terlewat pula setiap manusia akan butuh teman dalam hidupnya, sekali lagi tidak salah.

Sudah merupakan sifat manusia, jika senang terkadang lupa dan jika tertimpa kesedihan ia berkeluh kesah. Tak mengapa, manusia memang ditakdirkan seperti itu. Tidak pandang usia, profesi, maupun kedudukan. Masalah itu akan selalu ada. hanya saja cara mereka mencari jalan keluar yang berbeda, ada yang telah pasti dengan solusi masalahnya, dan ada yang masih meraba-raba dalam mencari jalan keluarnya.

Maka jika kita menilik tuntunan Al Qur’an dan al hadits, maka sungguh semua itu telah terjawab. Banyak cara dan jalan keluar dari setiap masalah yang kita hadapi. Yaitu berpegang teguh dengan Al Qur’an dan as sunnah, mempelajarinya, menyibukkannya dan memahaminya, insya Allah itu tidak akan cukup untuk waktu untuk itu.

Tidak seperti profesi-profesi keduniaan yang mencari solusi hanya meraba-raba, dan tidak sampai pada akar masalah. Sebagaimana profesi psikolog misalnya, dalam menangani masalah hanya berdasar dari masalahnya saja, tanpa melihat bahwa karena tidak ada pengajaran agama padanya maka akan timbul mudharat demikian dan demikian, akan tetapi hanya jalan keluar yang kadang justru tidak tepat.

Kenapa aku berkata demikian? Jika seseorang telah belajar agama dan ia tafaqquh padanya, maka ketenangan yang akan ia dapat, setiap masalah yang dihadapi akan dengan mudah dihadapinya dan ia anggap sebagai bumbu kehidupan yang dengannya ia merasakan bahwa ujian yang dihadapinya adalah sebagaimana ia berpegang dengan agamanya.

Berbeda halnya ketika kita belajar ilmu kalam/filsafat yang justru akan menghasilkan kebingungan dan ketidakpastian. Karena tidaklah filsafat mempelajari sesuatu hanya berdasar kemampuan akalnya semata, padahal akal itu terbatas, banyak dalam kejadian hidup kita yang tidak masuk di akal, seperti kehidupan kubur, sekiranya Nabi tidak mengabarkan kejadiannya maka kita dengan akal kita tidak akan mampi menjangkaunya.

Sebagai contoh ketika Ali membantah pemikiran pemuja akal, yaitu berkaitan dengan perintah menusap khuf (kaos kaki/sepatu panjang) maka beliau berkata, sekiranya akal yang berbicara maka yang afdhal adalah diusap bagian bawah yang terkena kotoran, akan tetapi tuntunan mengajarkan yang diusap adalah bagian atasnya. Subhanallah, sungguh akal itu terbatas.

Maka kenapa dibahas ini, karena disinggung seolah profesi psikolog/yang belajar psikologi pasti bisa menjadi tempat berbagi, bahkan tidak, mereka juga bisa tertimpa masalah yang jalan keluar itu adalah berdasar al Qur’an dan as Sunnah bukan filsafat/psikologi. Inilah salah kaprah manusia memandang profesi psikolog seolah mereka adalah suci dari masalah.

Akan berbeda halnya dengan orang yang belajar agama/penuntut ilmu dan ulama’nya, maka mereka akan dengan mudah menepis masalah yang mereka hadapi dan mereka akan berjalan dalam ketenangan.

Wallahu a’lam bish shawab.

Jika tertimpa masalah mohonlah kepada Allah dan jangan merasa lemah.

By: heane

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s