Itu adalah sepenggal dari sebuah syair Arab yang menganjurkan kita untuk menuliskan apa yang kita dengar dari sebuah majlis di mana di sana disampaikan ilmu yang bermanfaat. Ikatlah dengan tulisan dalam artian ketika kita hanya sekedar mendengarkan saja tanpa menulis maka kemungkinan kita untuk lupa adalah lebih besar, akan tetapi dengan ditulis maka ketika kita terlupakan maka kita bisa melihat kepada tulisan yang kita buat, dan tentunya akan mudah mengingat bahkan sampai detail saat menulis, saat penyampai memberikan materinya, bagaimana cara menyampaikannya, semuanya akan dengan mudah teringat.

Sebetulnya itulah salah satu kelebihan  tulisan, tentu yang dibuat berdasarkan kemauan kita sendiri bukan karena paksaan atau tuntutan seseorang kepadanya. Dan titik tolak pembicaraan ini adalah bertolak dalam hal penulisan masalah ilmu.

Akan tetapi, ternyata tidak hanya dalam masalah ilmu semata, karena ternyata sebuah tulisan yang kita buat berdasar kemauan kita sendiri, apapun itu akan dengan mudah mengingatkan apa saja dari kejadian yang kita tuliskan.

Sebagai contoh kecil saja, dengan maraknya jejaring sosial yang berkembang saat ini, banyak tulisan atau disebut status yang mereka buat atau kita buat, tentu dengan inginnya menulis dengan kemauan sendiri tanpa paksaan siapapun, apakah itu berupa ungkapan senang, keluhan maupun tulisan ilmiah dari pengalaman yang terjadi baru saja, maka dengan dituliskan itu tentu akan memudahkan kita untuk mengingat kejadian saat terjadinya, apalagi jika ternyata tulisan itu dikomentari dengan pertanyaan ingin tahu detailnya, walaupun komentar itu datang/masuk sehari setelahnya,  maka dengan mudah kita akan mampu menjelaskannya sedetail mungkin apa yang terjadi dan juga kronologinya.

Itulah kuatnya sebuah tulisan. Maka hendaknya kita berhati-hati dengan tulisan yang kita buat. Karena semuanya berawal dari pikiran, semakin kita banyak menulis berkeluh kesah di jejaring sosial maka berarti kita telah memperkuat pikiran kita untuk mengingat saat-saat kita mengeluh, saat-saat kita tertekan, maupun saat-saat kita dalam kesedihan.

Selayaknya kita menulis hanya untuk hal-hal yang bermanfaat dan memotivasi, dan mengabaikan keinginan untuk menulis berupa keluhan dan semacamnya. Sehingga akan menguatkan pikiran kita untuk mengingat hanya hal-hal yang positif saja.

Anda mungkin pernah juga membaca dalam buku biografi ulama terdahulu, di mana di sana berisi tentang tulisan nasehat untuk berhati-hati dalam menulis tulisan ilmiah. Sekali lagi tulisan ilmiah bukan sekedar tulisan status atau catatan ringan seperti ini. Dikatakan bahwa “Engkau menulis sebuah tulisan sama saja dengan engkau menaruh isi otakmu di depan pintu rumahmu, sehingga siapa saja orang yang lewat dan melihatnya akan mengetahui bagaimana isi otakmu.“

Karena dengan tulisan itu akan diketahui bagaimana pemahamannya, kearah mana dan kepada siapa ia condong dalam pemikirannya. Maka demikianlah keadaannya. Sebagai contoh, tengoklah buku-buku sejarah –sejarah Islam-, jika di zaman dulu, akan sulit ditemui buku-buku kaum khawarij –suatu kaum yang senang menentang penguasa, memberontak, menyalahkan penguasa, ujung-ujungnya menghalalkan darah orang yang tidak sepaham dengan mereka, timbullah di masa ini bom bunuh diri, dsb.- mereka tidak suka menuliskan pemikiran mereka, dan mengandalkan kekuatan ingatan mereka, sebagai misal baca tentang dialog Ibnu Abbas dengan kaum Khawarij sehingga hampir 2000-4000 orang dari mereka bertaubat, akan tetapi di masa sekarang, dengan mudah kita temui buku-buku mereka, salah satunya bahkan dengan judul : “Melawan Penguasa“ terbitan Al Jazira Solo. (Tidak direkomendasikan untuk dibaca, tidak ada faidah padanya, mereka akan mengajak kepada pengantin surga, istilah bahwa akan mendapat hadiah bidadari surga karena ‘mengira‘ telah syahid akibat bom bunuh diri yang ia lakukan, padahal tidak, sekali-kali ti!!!)

Tentu saja tidak semudah itu menilai seseorang, sebuah tulisan yang ia buat hanyalah satu dari banyak faktor yang menunjukkan jati dirinya. Jadi jangan mudah pula menghakimi seseorang dari tulisan-tulisannya, karena selain kita harus mengenalinya dan juga dekat dengannya, tulislah ketika kita sedang berada dalam majlis ilmu dan disampaikan ilmu padanya. Atau baca-baca buku dan tulislah setiap faidah yang kita dapat. Maka itu akan menguatkan ingatan dan pemahaman kita.

Wallahu ta’ala a’lam

By: heane

One response »

  1. dr. Iqbal Perdana S. mengatakan:

    Tulisan yang menarik, sejatinya saya juga sangat berhati-hati ketika menulis. Bukan karena malu, tapi khawatir jika apa yang saya tuliskan tidak dapat memberi faedah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s