Seburuk-buruknya diri kita insya Allah kita tidak atau jangan sampai membodoh-bodohkan atau membego-begokan orang lain, karena kita sadar sebagaimana dituduhkan yaitu bodoh, dalam artian bodoh itu sebagai motivasi bahwa karena merasa bodoh itulah maka kita akan terus belajar mengubur kebodohanku meskipun itu tidak butuh waktu yang sebentar.

Lisan itu ringan dan tidak bertulang, oleh sebab itu kebanyakan tergelincirnya kita adalah disebabkan sebagiannya karena lalainya lisan. Kita memvonis seseorang demikian dan demikian, padahal kita sendiri kurang dan terkena vonis dalam hal lainnya. Begitulah seterusnya, dan tidak lain itu terjadi karena memang tidak ada manusia yang sempurna. Tidak ada yang lengkap dalam keilmuannya, kalaulah kita temui seseorang mumpuni dalam sebuah cabang ilmu, maka sungguh ia akan lemah dan rapuh dalam cabang ilmu yang lain.

Maka di sinilah ibrah atau pelajarannya, kita diciptakan dalam keadaan kita bersama dengan lainnya, saling membutuhkan, saling melengkapi, dan salling mengerti. Jika saja manusia itu mampu hidup sendiri, maka sungguh itu hanyalah angan kosong belaka, jika saja ia merasa bisa independen/merdeka dari orang lain, tetap saja ia akan butuh pendukung dari sisi lainnya, bahkan tanpa ia sadari.

Seseorang mencela temannya dan orang yang sepaham dengannya dengan begitu kerasnya, sampai-sampai temannya ini mengabarkan ke semua orang bahwa pencela ini demikian dan demikian sehingga tidak pantas untuk di ajak berteman, apalagi sampai bersahabat karib dengannya, karena ditakutkan akan menjadi pencela sepertinya. Dan pencela ini karena merasa sombong dengan kemampuannya, dan ia selalu merasa dalam kebenaran terhadap semua yang ia katakan, kemudian ia mengatakan bahwa ia tidak butuh kepada teman atau siapapun untuk mendukung pemahamannya. Ia merasa bisa hidup independen/merdeka dari bersama-sama orang yang tidak sepaham dengannya.

Tapi ia lupa, ia tidak paham akan dirinya, ia tidak sadar ia berada di mana. Dia hidup di masyarakat, ia hidup bersama orang lain, ia butuh makan, minum, pakaian, dan ia juga mungkin punya usaha. Sangat tidak mungkin jika ia tidak butuh orang lain untuk mencukupi kebutuhannya itu, ia butuh belanja, ia butuh kebutuhan dirinya, dan ketika ia punya usaha ia butuh orang lain yang diharapkan membelanjakan hartanya untuk melariskan dagangannya. Apakah ia tidak sadar, siapa yang dia harapkan, bagaimana mungkin ia bisa merasa independen, akan tetapi ia masih butuh orang lain untuk mencukupi kebutuhannya. Mungkin saja orang-orang yang mencukupi kebutuhannya itu orang yang tidak masuk dalam daftar orang yang ia cela, akan tetapi belum tentu mereka ini sepaham dengannya, bisa jadi ia membelanjakan hartanya karena memang tempat terdekat adalah di situ. Dan mungkin juga pembeli ini tidak tahu atau tidak menyadari bahwa ia adalah pencela, karena ia banyak mencela adalah di dunia maya, sedangkan di dunia nyata belum tentu demikian keadaannya. Kalau ia cela semua orang yang berbelanja kepadanya, maka dengan cara apa lagi ia akan mencukupi dirinya, karena semua orang enggan kepadanya.

Ah, ternyata tulisan ini malah melenceng jauh dari arah tujuan semula.

Tapi biarlah, dan kita coba ambil sisi manfaat dari tulisan di atas, yaitu; jangan mudah merendahkan orang lain karena orang lain yang kita rendahkan juga mungkin memiliki kemampuan lebih dalam hal lainnya yang kita rendah/kurang dalam hal itu. Kemudian hargailah orang lain walaupun kita tahu orang itu kurang dalam sesuatu hal, jika memungkinkan ajari semampu kita apa yang ia tidak bisa, meskipun ia harus mengulang-ulang pertanyaannya karena tidak segera paham, berikan pengajaran yang baik, jangan lantas dicela dan dimarahi karena bisa jadi itu justru akan membuat ia terluka dan membekas dalam perasaannya karena merasa direndahkan. Jangan lupa juga, sadari kekurangannya, terima apa adanya dan jangan bandingkan kemampuannya dengan orang lain yang memang tidak sebanding dalam hal yang dibandingkan karena manusia itu tidak sempurnya dan adanya banyak manusia itu adalah untuk saling melengkapi dan menutup celah yang ada sehingga semua menjadi indah untuk dilihat dan nyaman untuk dirasakan.

Wallahu a’lam bish shawab.

By: heane on 12042013 – 22:09 WIB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s