Location of Kami in Kōchi

Location of Kami in Kōchi (Photo credit: Wikipedia)

 

 

 

 

 

 

 

 

Saat kami tenang, bercanda bersama istri dan anak-anak kami di toko yang kami jaga. Tiba-tiba datanglah dua orang, satu dengan seragam dinasnya dan satu dengan baju bebas, dalam pikiranku, “Waduh bahaya nih, ada razia produk kali ya dengan produk-produk herbal yang kami jual di toko, barangkali ada yang tidak berizin resmi..”

Mereka berdua pun kemudian berkeliling di dalam toko kami, seperti gerakan menggeledah, dan membuka-buka barang dagangan kami, sedangkan aku sibuk sendiri dengan laptopku, dan istriku sibuk sendiri dengan anak kami yang paling kecil sehingga tidak memperhatikan kedua orang  tersebut di dalam toko kami.

Selang beberapa saat kemudian setelah mungkin mereka anggap selesai melakukan penyelidikan, mereka kemudian pamit untuk pulang, namun tidak ku dengar kata ucapan terimakasih dari mereka, dan mereka berdua pergi terkesan buru-buru. Kami pun hanya mengiyakan dan kami anggap tidak ada apa-apa walaupun baru saja kedatangan dua orang asing. Kami pikir mereka tidak belanja juga, dan tidak ada hasil apa-apa dan juga tidak ada yang mencurigakan dari mereka di toko kami.

Beberapa saat kemudian tanpa hampir kami sadari tiba-tiba membuka pintu toko dan masuk dua orang berbeda lagi, sama seperti sebelumnya, satu dengan baju seragam dinasnya dan satu dengan baju bebas, “Aman.. aman..” kata salah seorang yang berseragam sambil tengok kanan kiri sekitar toko kami. Kemudian satu orang yang berseragam  masuk terlebih dahulu, tanpa mempedulikan kami yang masih bengong dengan kedatangan mereka, mereka berdua sama seperti dua orang sebelumnya, masuk dan menggeledah semua tempat dan dagangan di toko kami. Lagi-lagi kami tidak menaruh curiga dengan mereka.

Kemudian salah satu dari mereka, seperti menemukan sesuatu, mengambilnya dan kemudian menyerahkannya kepada temannya yang berseragam. Lalu dia datangi aku yang masih di depan laptop-ku, dan menunjukkan hasil yang didapatnya, kemudian berkata dengan membentak: “Ini apa? Darimana kamu dapatkan ini?”

Seorang yang berseragam segera menuju ke depanku menyodorkan sebuah kertas yang isinya tulisan tidak jelas seperti sebuah undangan, atau sebuah ajakan tertentu, setelah kubaca, dia mengambil kembali dan menyerahkan kepada teman satunya, oleh temannya itu, kertas itu dipotong jadi dua, mungkin sebagai bukti atau apa aku tidak tahu.

Sampai pada suatu keadaan kami dimana terpojok dengan keadaan kami, seolah tidak ada kesempatan dan kemungkinan bagi kami untuk menjawab atau mengelak kecuali kami mau digelandang mereka menuju kantor . Mereka menekan kami terus tanpa memberi kami kesempatan mempertahankan diri.

Dan kata terakhir yang akhirnya ku ucapkan kepada salah satu dari mereka yang berseragam, “Pak, bapak masih punya iman kan? Kalau begitu, beranikah bapak saya ajak bersumpah, kita saling melaknat , (maksudnya siapa yang benar-benar bersalah nantinya yang akan kena laknat itu).”

Dengan ragu, orang berseragam itu tidak segera menjawab, tetapi masih dengan memadang dan memperhatikan kami, lalu berkata pada temannya, “Ayo kita pergi dari sini.”

Kembali tidak ada kata pamit atau terimakasih sebelum meninggalkan toko kami, bahkan meninggalkan kami dalam keadaan bengong, saling tatap, sementara anak-anak kami masih asik dengan permainannya masing-masing.

Aku berkata kepada isteriku yang masih ada di sampingku yang masih terdiam, “Aku lupa, aku pernah baca di internet dan juga dari cerita beberapa orang, waspada dan hati-hati kalau ada  yang pura-pura sweeping ditempat usaha/toko, karena kalau tidak diperhatikan bisa saja salah seorang dari mereka akan melemparkan bungkusan plastik atau lainnya di dalam toko itu, dan bisa jadi isinya narkoba atau barang berbahaya lainnya, dan pada kesempatan berikutnya akan datang teman-temannya kembali ke toko itu dan mengatakan ada barang berbahaya di toko itu sehingga harus ada pengamanan, dan ujung-ujungnya kita akan paksa mengaku bahwa itu barang milik kita, dipalak atau setidaknya kita akan dijadikan kambing hitam dari kejahatan yang tidak pernah sekalipun kita lakukan.”

Istriku berkata, “Kenapa tidak diperhatikan dua orang pertama yang datang tadi?”

“Aku lupa…” aku menjawab dengan pelan.

“Bagaimana kalau mereka datang lagi, seharusnya mas tadi mengaku saja, biar penjelasannya bisa di kantor .” Kata istriku lagi.

“Tidak mau, memang kita tidak melakukan perbuatan itu.” Aku kembali menyangkal saran istriku.

Setelah itu, aku juga berkeliling di dalam toko kami, dan secara tidak sengaja di sebuah tempat kecil terselip berada di pojok toko kami,aku temukan sebuah bungkusan seperti paket yang sudah sobek namun isinya seperti belum terambil semuanya, mungkin hanya kertas tadi yang telah diambil. Aku bawa bungkusan seperti paket itu ke meja, aku buka, ternyata isinya hanya sebuah peta yang tidak jelas peta apakah itu dan potongannya tidak rata. Kemudian juga di dalam paket itu aku temukan juga sebuah saklar tembok, entah untuk  apa ia berada di dalam bungkusan itu.

Setelah selesai aku melihatnya, aku masukkan kembali ke dalam bungkus lagi, tapi bingung mau ditaruh dimana, atau dibawa kemana? Aneh, kenapa bungkusan ini tidak dibawa oleh dua orang tadi. Masih aku taruh dimeja. Aku melihat istriku masih dengan wajah tanpa senyum dan kemudian aku mengajaknya untuk pulang ke rumah sekarang saja.

Hari masih siang, waktu yang tidak layak untuk tutup toko, tapi kami sudah berniat menutup toko kami karena sedikit shock dengan kejadian yang baru saja kami alami. Aku panggil anakku yang paling besar, namun belum tahu apa yang baru saja terjadi, kemudian bersiap-siap dan segera bergegas kembali menuju ke rumah kami yang tidak jauh dari toko kami tersebut.

Dan… akupun kemudian terbangun dari tidurku.

Astaghfirullahal adziim, semoga ini tidak benar-benar terjadi di kehidupan nyata.

By: Heane, Bekasi 18062013 17:29

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s