Awal yang indah, semoga akan menjadi titik untuk titik-titik selanjutnya yang lebih indah dan berwarna, meskipun terdapat lubang di jalan-jalan yang ditempuh, meskipun sempitnya jalan tidak menggoyahkan langkah untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Sepoi angin terkadang menemani, terasa sejuk di badan, melupakan sejenak kesusahan dalam menempuh langkah-langkah ke tujuan. Dan seringkali pula panas terik matahari tepat seperti di atas kepala seolah mengajak sekedar berteduh sejenak sambil melepas lelah.

Dan perjalanan harus dilanjutkan, tidak ada alasan untuk berhenti dan kembali sebelum ada hasil dari buah perjalanan ini. Selalu ada alasan untuk melanjutkan perjalanan ini dan akan selalu ada awan yang menaungi  di bawah langit meskipun kadang tak tepat di bawah terik sinar matahari yang tepat di atas kepala.

Waktu berlalu, hari berganti hari, bulan, tahun berganti begitu seterusnya sampai saat ini, saat aku mendengar kabar terakhirnya. Masih sehat, Alhamdulillah, Allah ta’ala masih memberikan pertolongan-Nya kepadanya.

Oya, di sini aku akan bercerita tentang ibuku tercinta yang saat ini terpisah jauh dariku, meskipun dalam hatiku selalu timbul keinginan untuk menemaninya di hari tuanya, menyembuhkan kesedihannya, rasa sakitnya dan membantu kesusahannya semampu yang aku bisa.

Ibuku, yang telah mengandungku, melahirkanku, mengasuhku dari bayiku sampai dewasaku, dan ternyata setelah itu aku meninggalkannya sendirian di rumah. Aku pergi, tentu bukan untuk bersenang-senang, bukan untuk bermain-main untuk waktu yang lama, aku pergi sementara waktu untuk mencukupi diriku, dan jika ada lebihnya aku berikan untuk ibuku atau lainnya. Itu yang aku bisa sekarang ini. Walau sedikit, walau kesusahan, aku tahu dan aku sadar ternyata beginilah sebuah usaha yang dilakukan orang tua untuk keluarganya. Tidak mudah, penuh tantangan, dan tidak jarang cemoohan dan ungkapan meremehkan datang kepadaku. Tak mengapa, barangkali itu adalah ujian, agar di waktu mendatang aku bisa lebih baik lagi.

Ibuku, maafkan aku, jika selama ini mungkin aku telah mengecewakanmu, seharusnya aku menemani ibu di hari tuamu, seharusnya aku di sampingmu memijiti badan ibu yang mulai rapuh. Semestinya aku selalu ada saat ibu akan bepergian kemana ibu mau. Tapi aku tak ada di sisi ibu, saat ibu butuh itu, ibu mengabarinya lewat telepon kepadaku, hampir setiap hari atau katakanlah sering sekali ibu meneleponku hanya sekedar memberikan kabar demikian dan demikian. Aku sedih ibu, ingin rasanya aku bercerita langsung kepada ibu apa-apa yang aku alami, yang kadang tak mampu aku katakan kepada ibu hanya lewat telepon.

Suatu hari bapak sakit, yang harus dirawat di rumah sakit, sepertinya sakitnya tidak biasa, dan ibu kembali meneleponku, mengabari apa adanya, aku hanya minta maaf tidak bisa pulang, padahal dalam hati ini menangis, karena kembali aku mengecewakan kedua orang tuaku. Meskipun di telepon mereka meridhai alasanku, menerima udzurku, akan tetapi hati kecilku tidak bisa berbohong, meskipun di telepon aku kabarkan sebaliknya.

Sakit bapak berlanjut, kata dokter sebenarnya sakit bapakku itu sudah lama, sudah parah, hanya saja karena keinginan sembuh bapak yang demikian tinggi, Alhamdulillah, penyakit separah itu tidaklah menyusahkan keseharian beliau. Masya Allah… Allahu yasyfiih ! Ternyata sakit bapakku adalah sakit kanker, kanker usus besar yang menyebabkan kesusahan untuk BAB, dan salah satu jalan keluarnya adalah beliau harus dibuatkan jalan BAB yang baru di perut beliau. Karena kepayahan yang beliau rasakan, dan bujukan dari beberapa saudaraku yang lebih tua, akhirnya bapak mau dioperasi besar dan dibuatkan jalan BAB yang baru di samping perut beliau.

Ibuku sampai tiap hari meneleponku, seringkali lebih dari satu kali meneleponku, memberikan kabar terbaru, seringkali aku tidak tega, telepon beliau yang masuk sering aku matikan dan berganti aku yang menelepon ibu untuk itu. Pengobatan terus dilakukan dan lebih kontinyu dengan seringnya ke rumah sakit untuk sekedar kemoterapi, dan setelah itu pulang, rawat jalan di rumah, sekali lagi hanya ibu yang merawat bapak sendirian. Sendirian.

Terakhir kali telepon sebeum tulisan tidak penting ini dibuat, ibu menangis di telepon, tapi tidak memintaku untuk pulang, bahkan menyemangatiku untuk berusaha lebih gigih lagi di perantauan. Aku hanya diam mengiyakan. Aku berkata dalam hatiku, ibu pasti menginginkan aku kembali, tapi berat bagi ibu untuk mengatakan itu, banyak alasan yang hanya aku dan ibu tahu untuk alasan ini.

Ibu, ibu jangan menangis, ibu jangan menangis lagi, jika memang Allah takdirkan bersama ibu adalah lebih baik tentu doa itu akan terus aku panjatkan, demikian juga aku pinta ibu untuk berdoa itu juga. Ibu jangan menangis, aku adalah anak ibu, ada darah ibu di tubuhku, ada sifat ibu dalam watak keseharianku, ada kedekatan yang tidak semua tahu sedekat apa aku dengan ibu.

Ibu jangan menangis, ibu mungkin tidak akan bisa membaca tulisan ini, akan tetapi ibu lebih paham akan diriku, kemana aku akan ungkapkan kesedihanku, dan kepada siapa akan aku ceritakan semua itu. Ibu seorang yang tegar, aku yakin itu, kalaupun ibu menangis,  itu manusiawi, apalagi bagi ibu yang seorang wanita.

Maafkan aku ibu, jika selama ini kurang berbakti kepada ibu di kala usia senjamu.

Bekasi, 16092013 | 00.20 dini hari merindukan ibu.

By: heane

One response »

  1. darmansyahspdi87 mengatakan:

    Sungguh menyentuh hatiku.
    Kunjungi web saya jga ya dihttp://darmansyahspdi87.blogspot.co.id/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s