Jangan terpaku pada judul ini, baca sampai selesai baru bicara.

Saya hanya heran saja dengan sebagian orang yang mengatakan ketika ada temannya memposting sesuatu langsung dihukumi sebagai repost (pengulangan pos).

Tahu gak, banyak lho yang serta merta langsung  mengatakan bahwa apa yang ditulisnya itu adalah persis seperti apa yang telah diposting temannya, padahal terkadang apa yang ditulisnya itu murni merupakan apa yang terpikir saat itu dari pemikiran dia.

Tahu gak, apakah mereka ini tidak berpikir ya? Bahwa apa yang mereka alami selama ini juga merupakan sebuah pengulangan, tapi kenapa mereka tidak protes, apa karena itu mereka yang melakukan sendiri sehingga mereka malu untk mengungkapkannya. Memang sih, kebiasaan manusia itu akan mudah menilai kejelekan seseorang lainnya dan mengungkapkannya dan terkadang itu disampaikan di kalayak ramai. Tapi ketika dia sendiri melakukan kesalahan dan dia menyadari bahwa itu salah, kemudian ia enggan untuk meninggalkan kesalahan itu karena ia mungkin sudah enjoy kesalahan itu, maka ia pun tidak malu dan tidak mau mengatakan bahwa apa yang dilakukannya adalah sebuah pengulangan.

Tahu gak, ini hanya bicara masalah posting sebuah artikel, ya, hanya sebuah artikel, bisa pendek dan bisa juga panjang. Ada manfaatnya? Jelas ada, terutama bagi yang mempublikasikannya, karena ia anggap itu adalah pengetahuan baru baginya karena itu ia ingin membagi pengetahuan yang baru didapatnya itu kepada teman-temannya. Nah tiba-tiba ada seorang tidak dikenal, tanpa permisi, tanpa kata-kata pengantar langsung mengatakan bahwa artikel itu repost (hanya mengulang saja). Oke, itu memang repost, bahkan sebagian besar yang kita alami juga merupakan pengulangan (repost) dari kejadian sebelumnya. Dan misalkan yang mengatakan repost itu ditanya, belum tentu juga ia paham maksud dari posting artikel yang ia katakan repost itu.

Repost bukan berarti tidak bermanfaat lho, karena dengan adanya artikel repost itu berarti kita mengajak otak kita untuk mempelajari kembali apa yang telah dipelajari sebelumnya. Bisa jadi dengan membaca repost artikel, kita jadi lebih tahu dan lebih paham apa yang dimaksudkan dalam artikel tersebut, dam juga kita dapat mengambil faidah lainnya dari tulisan tersebut. Hanya orang yang tidak butuh pengetahuan yang tidak suka materi repost. Hanya orang yang tidak mau belajar yang tidak suka mengulang pelajaran sebelumnya.

Ingatkah kita, bahwa apa yang kita pelajari di buku smp dan sma itu sebagian telah kita pelajari waktu di SD, walaupun tidak semuanya. Dan ingatkah juga kita, bahwa ketika kita membaca soal ujian di SMP dan SMA juga ada yang pernah diujikan waktu SD, jadi kalau kita tidak mau mengulang pelajaran SD maka sama saja dia itu adalah INFERIOR. Tapi kenapa ia tidak bilang repost, repost. Karena ia butuh, maka tidak dia katakan itu.

Ingatkah juga, terutama bagi mereka yang berpindah-pindah tempat kerja, kemudian mengikuti tes-tes yang harus dikerjakan. Ingatkah, bahwa ada beberapa materi tes itu kadang mengulang tes-tes yang pernah kita kerjakan sebelumnya? Apa kita akan bilang repost ketika kita membaca materi tes itu?

Sama juga ketika kita membaca sebuah artikel yang diposting seseorang, kita melihat itu adalah materi yang pernah diposting oleh orang lain. Padahal isinya pengetahuan yang bermanfaat, lantas ada yang mengatakan repost. Tanyakan padanya, apakah ia telah paham, apakah ia telah mahir dengan materi yang barusan ia baca, atau jangan-jangan ia gak mau baca karena sudah pernah membaca sebelumnya, padahal hanya sebatas baca dan bukan memahami maksud yang dia baca. Saya tidak menggeneralisasi semua yang mengatakan repost seperti ini keadaannya, ada kok yang  benar-benar sudah paham apa yang barusan ia baca itu, kemudia ia katakan repost. Tapi sama artinya bahwa mereka itu orang sombong yang merasa sudah pintar dan tidak butuh pengulangan pengetahuan.

Yang menulis materi repost pun seharusnya jujur dan berani mengakui bahwa apa yang dia tulis adalah repost, selain itu harus juga berani memberikan penjelasan kenapa ia repost dan manfaat apa yang ia dapat dengan merepost postingan itu.

Kesimpulannya, jangan mudah mengatakan repost kepada orang yang memposting ulang sebuah materi padahal kita hanya sebatas membaca dan belum memahami apa yang kita baca. Bisa jadi dengan membaca materi repost itu, memori kita jadi lebih baik karena ada masukan berulang, efeknya, ingatan jadi lebih kuat.

Selesai. Bekasi 29112013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s