Pernah baca tentang sebuah artikel yang membahas tentang enaknya hidup di desa, dengan berbagai alasan, yang tentu saja masuk akal dan dapat diterima dan tentunya pula sangat mudah dipraktikkan.

Tapi pernahkan Anda berpikir tentang sisi lain hidup di desa? Kehidupan yang ramah tapi juga bisa sebaliknya jika tidak bisa menempatkan diri tinggal di desa.

Apa sajakah itu? Mari kita bahas satu persatu:

1. Jauh dari kota besar

Karena desa itu bukan kota maka tentu keduanya sangat berlawanan. Kota tidak sama dengan desa, dan sebaliknya. Konsekuensinya, jika Anda tinggal di desa maka harus mau jauh dari keramaian kota. Kalaupun kita mau ke kota harus menempuh perjalanan dengan waktu minimal 45 menitan baru sampai di kota.

Masalah sering timbul ketika kita buru-buru harus sampai kota untuk perjalanan jauh, misal ke bandara atau stasiun kereta, kita harus menyediakan waktu beberapa jam setelahnya sebelum jam keberangkatan. Hal itu disebabkan harus menempuh perjalanan dulu sebelum sampai stasiun atau bandara.

2. Listrik sering mati

Ini juga salah satu kendala ketika kita tinggal di desa, yaitu listrik sering mati tanpa ada pemberitahuan atau sosialisasi terlebih dahulu bahwa jam sekian sampai jam sekian akan mati listrik. Sebab lain listrik mati adalah seringnya kabel listrik tertimpa tumbangan pohon di pinggir jalan.

Jika kita tinggal di kota, mudah tinggal telpon operator PLN, tidak lama kemudian akan segera diperbaiki, lain dengan di desa, karena kantornya ada di kota atau jauh dari lokasi, mereka juga memerlukan perjalanan dahulu sebelum sampai ke lokasi, belum waktu pengerjaannya yang juga memakan waktu. Jadi bersabarlah😀

3. Jalan raya sebagian rusak dan kalau malam gelap

Namanya pedesaan, perawatan sarana jalan tidak sekontinyu di kota, kadang berada proyek ke sekian kalinya setelah proyek di perkotaan (ibukotanya) tentunya. Walaupun tidak dipungkiri juga, banyak juga wilayah pedesaan yang jalannya lebih bagus daripada jalan di perkotaan, selalu dirawat dan setiap ada kerusakan selalu segera diperbaiki, terutama ini terjadi di jalan menuju obyek wisata (ada maunya😀 ).

Selain masalah sebagian jalan yang rusak, ada masalah lainnya adalah sepanjang jalan yang gelap, karena minimnya lampu penerangan jalan, terutama setelah keluar dari pedesaan (jalan antar pedesaan). Oleh karena itu, lampu kendaraan wajib untuk selalu dicek untuk selalu siap menerangi di kegelapan.

Selain itu jalannya juga ada yang naik turun dan berbelok-belok, terutama pedesaan yang wilayahnya ada di pegunungan, harus semakin hati-hati, selain gelap, naik turun dan berbelok-belok.

4. Perkampungan homogen

Ini tentu sudah ada yang pernah belajar, terutama yang dulu menempuh sekolah SMA, pada pelajaran Sosiologi, tentang perbedaan pemukiman di pedesaan dan perkotaan.

Kalau di perkotaan, antar kampung atau pemukiman itu heterogen, artinya sepanjang jalan akan kita temui rumah-rumah atau pemukiman penduduk, jadi mereka tinggalnya menyebar. Sedangkan di pedesaan, akan kita temui pemukiman warga itu berkumpul pada satu titik kemudian ada lagi pada titik berikutnya dengan jarak beberapa kilometer. Artinya jika kita menempuh perjalanan di pedesaan, setelah kita melewati sebuah perkampungan akan kita temui beberapa kilo setelahnya sawah menghampar di pinggir kanan kiri jalan (yang kalau malam gelap), baru kemudian kita temui lagi sebuah pemukiman/perkampungan berikutnya. Jadi pemukiman di desa itu lebih homogen (berkumpul pada satu titik). Ingat kan pelajaran ini?

5. Sering terjadi kejahatan

Nah, karena jarak antar pemukiman/pedesaan satu dengan pedesaan berikutnya berjarak beberapa kilometer, tak jarang sering menjadi tempat untuk berbuat kejahatan (merampok atau mengambil paksa kendaraan, tidak jarang pembunuhan), terutama jika jalan yang dilewati itu berbelok-belok atau naik turun dan tidak ada lampu penerangan jalan. Waspada ya atau tanyakan dulu kepada warga setempat tentang lokasi-lokasi kejahatan di malam hari.

6. Pasar terbatas

Jika di kota kita akan dengan mudah menemukan pasar, baik pasar tradisional, pasar modern, atau bahkan pasar kaget (pasar musiman) dan juga yang dijajakan pedagang juga beragam jenis dagangan, maka akan lain halnya jika kita tinggal di desa. Pasar di pedesaan itu terbatas di tempat tertentu saja, biasanya pasar tradisional.

Walaupun yang dijajakan pedagang juga terhitung lengkap akan tetapi ada keterbatasan untuk pasar di pedesaan

  • Kadang terbentur dengan yang namanya hari pasaran (pon, wage, kliwon,legi, pahing). Jadi ada sebagian pasar di pedesaan yang ramai pedagang hanya pada hari-hari pasaran tertentu, tidak setiap hari. Akibatnya, kalau belanja dan berharap ramai pedagang/dagangan harus belanja di hari-hari tertentu yang berlaku, jika tidak dipastikan, pasar akan sepi pedagang.
  • Waktu berjualan pedagang juga terbatas, jika di kota akan kita temui pedagang berjualan dari pagi sampai sore atau malam hari, maka jika di desa atau pasar pedesaan, pedagang hanya akan berdagang dari jam 5 pagi sampai jam 12 siang saja. Setelah itu pasar itu sepi pedagang. Buktikan sendiri.
  • Tidak ada mall atau supermarket, bahkan minimarket pun terbatas dan sangat jarang ditemui. Kalau mau silakan datang ke kota dulu, hehe…

7. Harus mau sosialisasi (gotong royong)

Ini juga penting, tinggal di desa itu harus mau bergaul dan bekerja sama dengan mereka dalam pekerjaan-pekerjaan umum mereka (gotong royong). Banyak contoh, seperti gotong royong membangun rumah, kerja bakti, atau kegiatan desa lain.

Konsekuensi tinggal di desa harus ikut dalam kegiatan sosial, jika tidak bisa, ijinlah baik-baik, asal jangan tidak pernah datang saja pada setiap kegiatan desa. Memang sih, warga tidak akan menegur langsung, tapi secara tidak langsung ketika yang sering tidak hadir itu ada perlu dan butuh bantuan, mungkin warga tidak akan ada yang datang, kalaupun ada sedikit. Sebab kata mereka, dia juga tidak pernah datang… L

Ujung-ujungnya, uang juga yang harus keluar untuk mengambil tukang bayaran (kayak di kota, padahal di desa), padahal kalau dibantu warga sekitar, mungkin cuma memberi minum atau makan, yang jika dihitung, tetap lebih murah plus sosialisasi dan bermasyarakat. Coba saja kalau tidak percaya.

8. Fasilitas SPBU, bank, ATM agak jauh

Tinggal di desa juga harus siap dengan kendaraan yang saat pulang full bahan bakar, terutama yang lebih senang mengisi BBM di SPBU bukan di pedagang eceran.

Kenapa? Karena di pedesaan untuk menemukan SPBU itu susah, kalaupun ada agak jauh jaraknya. Solusinya kalau kehabisan bahan bakar di pedesaan, mau tidak mau harus mengisi dari pedagang eceran.

Kemudian, bank dan ATM juga jauh, biasanya kantor bank adanya di perkotaan, jarang di pedesaan, mungkin hanya BRI yang sampai pedesaan (kebanyakannya). Maka dari itu, jika ingin tinggal di desa, siapkan uang cash lebih agar tidak bolak-balik ATM/bank yang jaraknya agak jauh tersebut.

Itu saja dulu, maaf hanya opini pribadi, bersumber dari pengalaman pribadi

Bagaimanapun, bagi sebagian orang tinggal di desa itu tetap lebih menyenangkan. Silakan dikoreksi kalau ada kesalahan, atau dilengkapi kalau ada yang kurang.

One response »

  1. prima88putri mengatakan:

    Reblogged this on primaputrie.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s