Hujan, akhir-akhir ini hampir kita tidak bisa berpisah dengan hujan, pagi siang sore bahkan malam sampai pagi lagi masih hujan. Selain sekedar basah, terkadang ada di sebagian terjadi banjir karena air hujan yang turun berlebih.

Tapi hujan juga tergantung bagaimana kita menyikapinya. Ada yang menganggap hujan adalah berkah, karena memang percaya seperti itu, buktinya dengan sebab adanya hujan tanah jadi basah dan subur, tanaman bisa tumbuh mulai dari rerumputan sampai tanaman sayur-mayur, dan padi-padian tanpa harus rutin menyirami dan mengairinya. Dengan sebab itulah, hujan dianggap sebagai berkah.

Di sisi lain, hujan juga dianggap menyusahkan, tapi ini saya sendiri kurang setuju, saya tidak menganggap dengan adanya hujan itu menyusahkan. Kalaupun kita kesusahan karena hujan itu sudah konsekuensi hidup  di daerah yang banyak curah hujannya. Bepergian susah, takut basah, takut di sana banjir atau alasan apalah. Mungkin itu alasan mereka.

Belajar dari hujan

Sekarang coba kita belajar dari hujan, bagaimana hujan itu turun, berupa apa hujan itu, dan apa hasil dari hujan itu

Perhatikan deh, kita sering melihat hujan kan, mengalami juga sering kan? gak usah ditanya pasti juga udah pasti iya.

Bagaimana hujan itu turun? dari kumpulan titik-titik air tapi turun bersamaan, walaupun akhirnya terkumpul menjadi aliran besar di sungai atau di halaman rumah kita menggenang, tapi air hujan itu turun tetap dengan sedikit-sedikit, tidak lantas turun sejumlah genangan di halaman rumah kita. Bayangin aja kalau misalnya hujan turun sekaligus dalam jumlah yang besar mirip tsunami atau banjir tapi dari atas, menakutkan malah jadinya.

Kalau dipikir seperti rezeki yang turun kepada kita juga seperti itu, datang sedikit demi sedikit, sampai akhirnya terkumpul menjadi banyak. Percayalah, Allah Maha Adil dan tidak akan menyia-nyiakan usaha yang dilakukan manusia. Jadi bersyukurlah masih ada hujan.

Hanya hujan air, kenapa takut?

Paling hanya basah, kalaupun kemudian sakit, itu adalah cobaan lain, mungkin saja dengan dihadirkannya sakit pada diri kita itu sebagai penghapus dosa-dosa yang telah kita lakukan, sebagai pembersih amal jelek yang kita lakukan. Aamiin.

Bayangkan saja, kalau misalnya hujan berupa batu. Hujan abu saja ketika gunung meletus sudah gak enak banget, apalagi kalau mengalami hujan kerikil dari letusan gunung berapi, sangat tidak enak lagi, sakit lagi kalau kena kepala atau badan, kena genteng aja bisa pecah gentengnya.

Jangan bayangkan kalau hujan itu berupa batu api, sebagaimana dalam kisah Pasukan Gajah yang hendak menghancurkan Ka’bah di masa lalu. Pasti akan sangat menyakitkan. Kita berlindung dari musibah semacam itu.

Bersyukur sajalah, masih ada hujan, dan hujan itu berupa hujan air bukan hujan abu, hujan kerikit, atau hujan batu. Paling hanya basah, kotor karena lumpur, paling parah dan tidak kita harapkan adalah banjir.

Bersyukur ada hujan, daripada berisik suara pentas musik, lebih nyaman berisik suara hujan, sangat jarang saya temui orang mengeluh karena berisik suara air hujan, tapi sangat sering saya temui saya dengar orang mengeluh karena berisik suara pentas musik atau speaker yang suaranya keras. Coba deh tanya orang sekitar, hehe…

Intinya, bersyukur dengan adanya hujan, jangan mengeluh karena hujan. Kalaupun kita lihat ada yang mengeluh di sosial media, tapi kenyataannya, lebih banyak di luar sana yang tidak mengeluh dengan adanya hujan yang turun. Maka kita ikuti yang lebih banyak itu terkadang lebih selamat, walaupun tetap jumlah banyak itu bukan ukuran keselamatan atau ukuran kebenaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s